.comment-link {margin-left:.6em;} span.fullpost {display:none;}

ruang santai

Saturday, February 04, 2006

Kenapa saya bisa bahasa Inggris (1)

Suatu saat. Nun jauh di sisi-sisi kenanganku yang terdalam. Sebuah kenangan di masa kecil yang cukup membahagiakan. Sesuatu berpijar, bersinar tanpa nama. Rasa itu hadir, mungkin tak terlalu dimengerti oleh saya. Well, setidaknya untuk pertama kalinya.

Kalau saya mau melihat ke awal kehidupan saya, maka perkenalan pertama dan proses belajar bahasa Inggris itu dimulai ketika orangtua memberi buku-buku anak-anak berbahasa Inggris. Komik, tentu saja. Saya jadi kenal Superman, Spiderman, Batman, dll. Mereka adalah produk dari perusahaan seperti Marvel dan DC Comic tentunya.

Seiring dengan pertumbuhan badan (yang enggak bisa terbendung, terus mengembang...hehe) dan usia, hobi saya bertambah dengan mulai nonton. Nonton kartun-kartun yang pake bahasa Inggris. Kembali saya dibua oleh realita khayalan ala Walt Disney, Hannah-Barbara, dll. Jadilah saya individu lokal yang bermental global (wuih! Peh peh).

Bahasa Inggris memang asing tapi jadi akrab rasanya. Seperti udara yang dihirup, seperti es jeruk yang diseruput. Ada ragam informasi yang bisa saya dapat dari sana. Apalagi kalau udah ngulak ngulik internet. Lha, sebagian besar info situs kan pake bahasa Inggris. Walau sekarang udah ada yahoo dan google nyang pake bahasa Indonesia, tapi isi yang lebih banyak akan tersedia bila kita bisa ngerti bahasa Inggris.

Bahasa Inggris sendiri rasanya unik. Ada beberapa kata, makna dan rasa yang susah ditransfer jadi bahasa Indonesia. Kata tranquility, contohnya. Bisa diterjemahkan ke dalam damai. Tapi yang tring di kepala saya waktu denger kata ini adalah pemandangan sebuah danau yang benar-benar bening dan tak terganggu. Itu baru satu contoh.

Tapi saya yakin juga bahwa setiap bahasa sebenarnya adalah unik. Bahasa sunda juga termasuk. Yakin deh bahwa ada makna istilah Sunda yang nggak bisa diterjemahin ke bahasa Indonesia.

Mungkin karena usianya bahasa ini lebih tua daripada bahasa Indonesia yang (menurut sejarah) baru terbentuk di abad ke-20. Well, itu urusan ahli bahasa kali ye.

Anyway, cintailah bahasa. Apa pun itu. Sebab dengannya kau dapat menyapa pagi, mengurai batin di derai airmata yang tersendat, bercerita kepada lelaki/perempuan yang kau kasihi tentang pandanganmu terhadap dunia, bertutur dan berdo'a kepada Tuhan Yang Rahman dan Rahim di tengah malam yang gelap dan dingin.

From a warnet corner near Setiabudi street, Bandung.


Baca selengkapnya!