.comment-link {margin-left:.6em;} span.fullpost {display:none;}

ruang santai

Friday, May 12, 2006

To my dear students (2) : Pilih Siang atau Malam?

Dear students,

Kita biasanya membagi hari kita menjadi 2 bagian besar: malam dan siang. Tapi mana yang lebih kalian senangi: siang atau malam?

Jawaban pribadi saya pastilah malam. Malam kelam nan temaram. Kenapa? Karena malam menghadirkan suasana tertentu yang tidak dapat disediakan oleh siang. Yang pasti, di malam hari kita tidak lagi bekerja. Saya bisa lebih santai, istirahat sambil nonton tv atau tidur. Kalau siang, kayaknya susah ya tidur di kantor? (Kecuali kalau nekat sih...he3).

Malam juga menyenangkan untuk berpergian ke suatu tempat. Pada saat-saat tertentu, kita juga butuh untuk bertemu teman dan ngobrol-ngobrol di warung, kafe, rumah temen atau tempat hiburan. Dan teman memang waktu yang tepat untuk ngobrol, berhaha-hihi sampai larut - bahkan sampai pagi.

Dari sisi kesibukan, kayaknya siang juga berkesan agak ribet. Semua orang bekerja dan bergerak ke berbagai penjuru kota. Semua orang terasa bergegas pergi - entah ke mana. Tapi malam menyediakan diri untuk lebih santai, dan lebih bernuansa intim (intimate) daripada yang lain. Makanya mungkin orang berpacaran lebih enak malam hari, soalnya kalau malam kesannya gimana gitu....(bener nggak penonton?).

Terakhir, kalau Anda sedih dan ingin sendiri - maka malam adalah saat yang paling tepat. Saya pernah punya teman yang begitu berubah jika malam datang. Kalau siang, ia adalah orang yang semangat, happy dan easy going. Tapi kalau malam, topeng itu lepas dan yang tertinggal adalah sosok yang suka kesepian dan begitu....rapuh. Jadi malam juga menyediakan diri untuk menelan kesedihan dan kepedihan kalian.

Ah, malam. Gimana menurut Anda? Pilih siang atau malam?..Ayo, ditunggu comment-nya yah.


Baca selengkapnya!

Wednesday, May 03, 2006

For my students (1)

Dear Students,

Katanya, masyarakat di Indonesia belumlah termasuk kelompok yang suka membaca. Membaca hanyalah dilakukan di waktu lenggang dan belum menjadi sebuah kebutuhan. Karena kita masyarakat yang belum literer, maka kita gampang berpindah-pindah dari satu masalah ke masalah lain. Padahal masalah yang pertama belumlah selesai. Hal ini kata sebuah artikel yang saya baca di koran, adalah cermin dari kerja otak kita yang masih berpaku pada kebiasaan mengobrol dan bukan membaca.

Literasi, sangatlah penting. Tidak bisa dipungkiri bahwa di abad ini, informasi sangatlah berharga. Negara-negara di belahan dunia lain semakin maju dan berkembang, salah satunya berkat kebiasaan membaca ini. Hal ini sangat penting sehingga ayat pertama dalam kitab suci Al-Qur'an pun menyebutkan perintah membaca. Dan membaca, bukan terbatas pada membaca buku dan majalah. Hidup dan dunia serta kehiudupan-pun merupakan bahan yang kaya untuk dibaca.

Padahal, yang perlu dirubah hanyalah kebiasaan. Dan merubah kebiasaan membutuhkan keinginan dan tekad. Saya juga kadang-kadang suka terenyuh jika melihat reaksi mahasiswa saya di kelas. Jawaban dan reaksi yang mereka lakukan, terkadang mencerminkan minimnya niat membaca di diri mereka.

So, pertanyaan untuk anda adalah :
1. Menurut Anda, benar tidak kalau mahasiswa saat ini jarang membaca?
2. Apa sih yang kira-kira bisa membuat Anda gemar membaca?
3. Bahan bacaan apa yang Anda sukai?

Thanks.


Baca selengkapnya!

Tuesday, May 02, 2006

Kebahagiaan dan Kesuksesan

Saya duduk bersama sekitar sepuluh orang dalam sebuah kelompok. Kami semua adalah partisipan dalam sebuah workshop yang difasilitasi oleh Prof. Dr. Komarudin Hidayat. Seperti workshop-workshop lain yang bertema spiritualitas, kami duduk membicarakan banyak hal.

Satu hal yang muncul dari pertanyaan itu adalah apa sih yang membuat kita merasa bahagia? Banyak orang yang mengukurnya dengan keberhasilan finansial, pensiun muda dan bisa jalan-jalan dan bersantai. "Kalau saya merasa bahagia apabila saya pulang dan anak-anak menghambur ke pelukan saya", kata teman saya. Wah, kekeluargaan sekali ya?

Banyak orang yang mempertalikan kebahagiaan dengan kesuksesan. Karena saya seorang pengajar (yang mungkin masih terlalu naif), kesuksesan saya rasa adalah ketika murid saya mengerti dan memahami apa yang saya ajarkan. Dan kebahagiaan adaah sesuatu yang sederhana: ketika murid merasa bahwa apa yang dipelajarinya bermanfaat dan dapat digunakan olehnya sepanjang hidupnya.

Kata Mas Komar, sebetulnya kebahagiaan dan kesuksesan yang tertinggi sebenarnya apabila kita dapat lebih banyak memberi daripada menerima. Ketika kita membuat orang yang kita cintai menjadi lebih berbahagia karena kita bisa memberikan yang terbaik kepadanya. Dan itu nggak usah jauh-jauh : kepada teman, pacar, keluarga kita.

Gimana setuju nggak?


Baca selengkapnya!

Monday, May 01, 2006

Rain...

Hujan ini terasa indah,
Ia hadir dengan ketukan-ketukannya yang berirama di jendela.
Sesaat ia mengingatkanku padamu,
Sebuah senyum dan tawa yang renyah.

Hujan ini terasa indah,
Karena ia membawaku asa-ku kembali ke rumah.
Daun-daun yang basah dan
bau tanah yang meruap ke udara.

Hujan ini terasa indah,
Karena ia hadir membawamu kembali padaku,
Setelah hari-hari yang kau pintal dengan seseorang yang lain.
Ia adalah sebuah ingatan buram, yang kini tak lagi bernama.

Hujan ini terasa indah,
Karena ia mengingatkanku pada perpisahan itu
Sebuah tangis dan isak yang tersedak di dalam jiwaku.
Sebuah ruang yang tak lagi berisi...mu


Baca selengkapnya!

Dan demi waktu...

Ada sesuatu yang hangat, mampir tapi tak sempat merekat
Ada sesuatu yang luka, tiba tak tak sempat terbuka
Ada sesuatu yang manis, berlalu tanpa sempat tertepis...

Waktu. Biasanya kita mengasosiakannya dengan sebuah alur: kelahiran, kelulusan, perkawinan dan kematian. Ia selalu hadir, mengalir tapi (mungkin) tidak pernah benar-benar jadi bahan refleksi. Saya pernah baca buku yang judulnya mimpi-mimpi Einstein (terbitan Gramedia kalau tidak salah). Dalam buku itu, secara kreatif diperlihatkan waktu dengan bentuk-bentuk yang agak "ganjil". Waktu yang beku, waktu yang terus berulang dan sebagainya. Waktu, dalam kreativitas sang pengarang, bukanlah sesuatu yang berlaku linear. Lurus, dan tak berulang. Ia mungkin saja menjadi sirkular, beku dan menjadi sesuatu yang tak berujung.

Waktu, terkadang terasa "berhenti" apabila ada sebuah momen-momen khusus yang dialami oleh kita. Saya secara pribadi, pernah beberapa kali merasakan apa yang dinamakan "waktu yang melambat". Saat itu, waktu terasa begitu lama karena adanya bayangan yang begitu indah atau yang kita rindukan lewat dalam lamunan atau pikiran kita. Tapi paradoksnya, waktu juga bisa terasa begitu cepat bila kita berada di dalam kehadiran orang yang kita akrabi, seorang sahabat atau seseorang yang kita cintai. Di tengah keakraban pembicaraan, waktu bisa jadi terasa begitu sedikit.

Sewaktu-waktu, mungkin kita harus lebih merefleksikan diri kita. Apa sudah benar apa yang kita lakukan dengan waktu kita? Kalau waktu kita sudah habis dan kematian datang, kira-kira bisa nggak kita mengatakan bahwa hidup kita sudah bermakna?


Baca selengkapnya!