Dan demi waktu...
Ada sesuatu yang hangat, mampir tapi tak sempat merekat
Ada sesuatu yang luka, tiba tak tak sempat terbuka
Ada sesuatu yang manis, berlalu tanpa sempat tertepis...
Waktu. Biasanya kita mengasosiakannya dengan sebuah alur: kelahiran, kelulusan, perkawinan dan kematian. Ia selalu hadir, mengalir tapi (mungkin) tidak pernah benar-benar jadi bahan refleksi. Saya pernah baca buku yang judulnya mimpi-mimpi Einstein (terbitan Gramedia kalau tidak salah). Dalam buku itu, secara kreatif diperlihatkan waktu dengan bentuk-bentuk yang agak "ganjil". Waktu yang beku, waktu yang terus berulang dan sebagainya. Waktu, dalam kreativitas sang pengarang, bukanlah sesuatu yang berlaku linear. Lurus, dan tak berulang. Ia mungkin saja menjadi sirkular, beku dan menjadi sesuatu yang tak berujung.
Waktu, terkadang terasa "berhenti" apabila ada sebuah momen-momen khusus yang dialami oleh kita. Saya secara pribadi, pernah beberapa kali merasakan apa yang dinamakan "waktu yang melambat". Saat itu, waktu terasa begitu lama karena adanya bayangan yang begitu indah atau yang kita rindukan lewat dalam lamunan atau pikiran kita. Tapi paradoksnya, waktu juga bisa terasa begitu cepat bila kita berada di dalam kehadiran orang yang kita akrabi, seorang sahabat atau seseorang yang kita cintai. Di tengah keakraban pembicaraan, waktu bisa jadi terasa begitu sedikit.
Sewaktu-waktu, mungkin kita harus lebih merefleksikan diri kita. Apa sudah benar apa yang kita lakukan dengan waktu kita? Kalau waktu kita sudah habis dan kematian datang, kira-kira bisa nggak kita mengatakan bahwa hidup kita sudah bermakna?
Ada sesuatu yang luka, tiba tak tak sempat terbuka
Ada sesuatu yang manis, berlalu tanpa sempat tertepis...
Waktu. Biasanya kita mengasosiakannya dengan sebuah alur: kelahiran, kelulusan, perkawinan dan kematian. Ia selalu hadir, mengalir tapi (mungkin) tidak pernah benar-benar jadi bahan refleksi. Saya pernah baca buku yang judulnya mimpi-mimpi Einstein (terbitan Gramedia kalau tidak salah). Dalam buku itu, secara kreatif diperlihatkan waktu dengan bentuk-bentuk yang agak "ganjil". Waktu yang beku, waktu yang terus berulang dan sebagainya. Waktu, dalam kreativitas sang pengarang, bukanlah sesuatu yang berlaku linear. Lurus, dan tak berulang. Ia mungkin saja menjadi sirkular, beku dan menjadi sesuatu yang tak berujung.
Waktu, terkadang terasa "berhenti" apabila ada sebuah momen-momen khusus yang dialami oleh kita. Saya secara pribadi, pernah beberapa kali merasakan apa yang dinamakan "waktu yang melambat". Saat itu, waktu terasa begitu lama karena adanya bayangan yang begitu indah atau yang kita rindukan lewat dalam lamunan atau pikiran kita. Tapi paradoksnya, waktu juga bisa terasa begitu cepat bila kita berada di dalam kehadiran orang yang kita akrabi, seorang sahabat atau seseorang yang kita cintai. Di tengah keakraban pembicaraan, waktu bisa jadi terasa begitu sedikit.
Sewaktu-waktu, mungkin kita harus lebih merefleksikan diri kita. Apa sudah benar apa yang kita lakukan dengan waktu kita? Kalau waktu kita sudah habis dan kematian datang, kira-kira bisa nggak kita mengatakan bahwa hidup kita sudah bermakna?

0 Comments:
Post a Comment
<< Home